sebuah artikel dari http://blog.uin-malang.ac.id/amin/2010/12/21/pengaruh-islam-atas-eropa-abad-pertengahan/
A. Pendahuluan : Pentingnya Studi Tsaqofah Islamiyah
Akbar S. Ahmed menyebutkan ada dua pendekatan tradisional untuk memahami sejarah Islam. Pendekatan pertama dilakukan oleh Ibn Khodun yang disebutnya teori Siklus. Teori itu menarik karena sangat sederhana dan dimulai dengan penggambaran sebagai berikut : Sejumlah anggota suku yang tegar turun dari b ukit lalu tinggal di kota. Lambat laun mereka terpaksa harus mengikuti cara hidup dan budaya kota serta melepaskan ikatan kesukuannya setelah tua mereka tergeser oleh gelombang pendatang baru yang juga dating dari daerah bukit. Siklus itu berulang setiap tiga atau empat generasi.
Pendekatan kedua menggambarkan Islam yang mengalami perkembangan pesat dan dramatis pada abad ke-7 dan kemudian mengalami keruntuhan yang tidak terelakkan. Rasul dan para Sahabatnya menunjukkan perilaku Muslim terbaik. Setelah mereka saat kemunduran tak dapat dielakkan. Rasul sendiri berkata :”Yang terbaik dari semua pengikutku adalah generasiku, menyusul setelah masa generasiku kemudian generasi selanjutnya.[i]
Kedua pendekatan di atas memiliki persamaan. Keduanya menyepakati konsep perkembangan dan keruntuhan Islam yang berlansung secara cepat. Orang memang mudah tertarik untuk meninjau sejarah dengan cara itu. Bagi orang Arab tahun 1258 menandai berakhirnya kekuasaan Islam.[ii] Sementara itu bagi orang Eropa tahun tersebut merupakan tahun runtuhnya Muslim Timur yang bejat dan munculnya pembaruan yang bersumber dari Barat.
Sebenarnya cara seperti itu bukanlah cara yang tepat untk memahami sejarah Muslim, tetapi cara tersebut sudah dianggap sebagai cara yang wajar dan jarang ditinjau ulang atau dipertanyakan orang. Seharusnya kita meninjau sejarah Islam bukan dari kejayaan Islam dan keruntuhan dinasti Arab. Yang patut menjadi perhatian kita adalah irama (ritme), peristiwa pasang surut, kemajuan dan kemunduran, serta penanjakan dan penurunan yang terjadi pada masyarakat Muslim yang berupaya menerapkan konsep tipe ideal Muslim abad ke-7. Jadi meskipun dinasti atau kerajaan Muslim mengalami kejayaan dan keruntuhan atau tidak pernah muncul kembali, konsep tipe ideal tetap hidup dan diamalkan terus menerus oleh kelompok dan individu di pelbagai temoat dan waktu yang berbeda.
Di sinilah letak pentingnya mempelajari tsaqofah islamiyah, yang mana tidak dimaksudkan sebagai romantisisme sejarah kejayaan masa lalu yang membuat kaum Muslimin semakin lengah dan lemah. Akan tetapi hendaknya dijadikan sebagai inspirasi untuk mewujudkan kembali (rekonstruksi) warisan khazanah peradaban yang pernah mewarnai dunia dan memberikan cahaya terang bagi peradaban lain.
Upaya untuk merekonstuksi peradaban Islam sudah barang tentu membutuhkan pemahaman yang utuh terhadap dinamika peradaban itu sendiri. Baik pemahaman terhadap peradaban yang murni dari idealita ajaran-ajaran Islam maupun dari realita persinggungannya dengan perdaban dunia lain yang kemudian dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Tulisan ini mencoba membahas hal-hal yang dianggap penting sebagai upaya rekonstruksi peradaban Islam. Di antaranya adalah ; pengaruh perdaban Islam atas dunia Barat, sebab-sebab kemunduran kaum Muslimin dalam Tsaqofah dan posisi peradaban Islam bagi umat Islam Modern.
B. Pengaruh Dunia Islam atas Barat
Tiga arus kebudayaan purba mempengaruhi arah perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam. Ketiaga arus tersebut adalah kebudayaan Yunani (Hellenic), Persia dan India. Hellenisme pada dasarnya meliputi filsafat Yunani, Plato Aristoteles, pandangan Euclid dan Neo-Platonik serta tulisan tentang ilmu kedokteran yang ditulis oleh Hipocrates dan Galen. Dalam jangka waktu 100 tahun buku-buku penting Yunani telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Setelah itu melalui Spanyol dan Sisilia, orang Arab menyebarkan pengetahuan Yunani yang sudah dikembangjan itu ke Eropa. Pengetahuan yang sudah dikembangkan di dunia Arab itulah yang mendorong lahirnya renaisans (kebangkitan kembali) di Eropa. Pengaruh Persia hanya terbatas pada bidang kesenian dan kesusasteraan yang diwarnai oleh mistisime, astronomi, matematika dan system decimal merupakan unsur pengaruh kebudayaan India.[iii]
Dengan demikian kebudayan dan perdaban Islam tidak lepas dari persinggungan dengan beberapa perdaban besar dunia terutama Yunani. Namun peradaban tersebut tidak begitu saja mempengaruhi dunia Islam dan kaum Muslimin. Kaum Muslimin mengembangkannya lebih lanjut sehingga lebih mudah untuk diungkapkan dan dipahani kembali. Seandainya pengembangan oleh kaum Muslimin tidak dilakukan, maka dapat dipastikan bangsa Eropa akan menemukan kesulitan untuk ‘menerjemahkan’ warisan peradaban nenek moyang mereka. Hal inilah yang tidak diakui mereka sebagaimana ditulis secara jujur dan obyektif oleh W. Montgomery Watt sebagai berikut :
“Sutau kajian atas pengaruh Islam atas Eropa terutama relevan untuk dewasa ini, ketika orang-orang Kristen dan orang-orang Islam, juga orang-orang Arab dan Eropa, semakin terlibat intim satu sama laindalam satu dunia. Untuk jangka waktu tertentu, memang diakui bahwa penulis-penulis Kristen Abad pertengahan telah menciptakan citra mengenai Islam yang dalam beberapa hal merendahkan. Tetapi melalui upaya para sarjana selama satu abad lampau, gambaran lebih objektif sekarang tengah mengambil bentuknya dalam pemikiran Barat. Namun demikian karena utang budaya (cultural indebtedness) kita terhadap Islam, kita bangsa Eropa masih terlalu angkuh. Kita terkadang mengecilkan kuat dan pentingnya pengaruh Islam dalam warisan kita, bahkan kerap kali tidak mengakuinya sama sekali. Untuk kepentingan hubungan baik dengan bangsa Arab dan kaum Muslimin, kita harus mengakui utang budaya kita sepenuhnya. Berusaha menutupi dan mengingkarinya adalah satu cirri kebanggaan yang palsu.[iv]
Sebagaian besar pengaruh kebudayaan Islam atas Eropa terjadi akibat pendudukan kaum Muslim atas Spanyol dan Sisilia. Dari Spanyol pemikiran ilmiah dan filsafat Islam ditransmisikan ke Eropa.
Spanyol Muslim melahirkan pancaran cahaya yang agung. Masjid Agung Cordova, sejumlah pertamanan, pancuran dan alun-alun istana al-Hambra, syair muwashshahat dan zajal dengan kandungan beberapa ayat al-Qur’an dan dengan beberapa ungkapan roman, sejumlah kebun-kebun irigasi di Seville dan Valencia, hikmah filsafat dan sains semua ini merupakan monument peninggalan Islam Spanyol. Spanyol merupakan pusat utama bagi penyaluran filsafat Yunani dari Banfsa Arab kepada bangsa Eropa.[v]
Buku-buku Yunani yang telah dipelajari oleh cendikiawan-cendikiawan Islam tidak sebatas pada tingkat penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi ditambahkan pula ke dalamnya hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri. Dengan demikian muncullah ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filosof Islam. Filosof-filosof Islam sebagaimana halnya filosof Yunani, bukan hanya mempunyai sifat-sifat filosof, tapi juga sifat ahli ilmu pengetahuan. Karangan-karangan mereka tidak hanya terbatas pada lapangan filsafat tetapi juga meliputi lapangan ilmu pengetahuan.
Pengaruh Islam yang terbesar terdapat dalam ilmu kedokteran dan filsafat. Dalam ilmu kedikteran, Abu Bakar Al-Razi yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes mengarang buku tentang penyakit cacar dan campak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggris dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Begitu pentingnya buku ini bagi Eropa sehingga terjemahan Inggrisnya dicetak 40 kali antara tahun 1498 hingga tahun 1866.[vi]
Karya utama al-Razi adalah ensiklopedi obat-obatan yang dalam bahasa Arab berjudul al-Hawi, sebuah buku studi perbandingan. Karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Farragut dengan judul Continens dan sejak 1488 hingga 1542 sudah diterbitkan sebanyak 5 kali, padahal naskah aslinya baru diterbitkan untuk pertama kalinya sekitar tahun 1960. Dalam buku itu al-Razi terlebih dahulu menyajikan cara penanggulangan penyakit menurut pandangan Yunani, India Persia dan Arab, kemudian mengemukakan pandangannya sendiri. Sebanyak 50 buah karyanya masih bias diperoleh dewasa ini.[vii]
Ibnu Sina (Aveciena) selain sebagai filosof adalah juga seorang dokter yang mengarang ensiklopedia dalam ilmu kedokteran yang terkenal dengan nama al-Qonun fi al-Tib (Canon of Medicine). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, berpuluh kali dicetak dan tetap dipakai di Eropa sampai pertengahan abad ke XVII disbanding karya Galen dan Hipokrates.
Dalam lapangan filsafat, nama-nama al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd sangat terkenal di samping filosof Muslim lainnya. Al-Farabi mengarang buku-buku dalam bidang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi tentang filsafat Aristoteles. Sebagian dari karangan-karangannya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan masih dipakai di Eropa abad XVII. Ibnu Sina juga banyak mengarang dan yang termasyhur adalah al-Syifa’, suatu ensiklopedi tentang fisika, metafisika dan matematika yang terdiri atas 18 jilid. Bagi Eropa Ibn Sina dengan tafsiran yang dikarangnya tentang filsafat Aristoteles lebih masyhur dari pada al-Farabi. Tetapi di antara semuanya, Ibn Rusyd atau Averroeslah yang banyak berpengaruh di Eropa dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut Averroesme.[viii] Ringkasnya periode ini adalah periode peradaban Islam yang tertinggi dan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi munculnya perdaban modern di Barat.
C. Sebab-Sebab Kemunduran Kaum Muslimin dalam Tsaqofah
Setelah tejadinya kontak antara peradaban Islam dengan masyarakat Eropa yang kemudian melahirkan renaisans, maka dimulailah babak baru kehidupan intelektual Barat yang baru saja terbangun dari ‘tidur lelap’nya menuju periode sejarah umat manusia yang sama sekali baru, yaitu Abad Modern.
Hakikat Abad Modern itu menurut Marshal G. S. Hodgson sebagaimana dikutip Nurcholis Madjid ialah Teknikalisme dengan tuntutan efisiensi kerja yang tinggi yang diterapkan pada semua bidang kehidupan. Maka menurutnya Abad modern itu lebih tepat disebut Abad Teknik. Teknikalisme itu an sich melatarbelakangi timbulnya Revolusi Industri, sedangkan implikasi kemanusiaannya menyembul dalam bentuk Revolusi Prancis. Dua peristiwa yang secara amat menentukan menandai dimulainya Abad Modern sekitar pertengahan abad ke XVIII.[ix]
Mengapa Abad Modern tidak timbul dari lingkungan negeri-negeri Muslim melainkan di Eropa Barat Laut ? Hudgson menduga bahwa masyarakat islam gagal memelopri kemoderenan karena tiga hal : konsentrasi yang kelewat besar penanaman modal harta dan manusia pada bidang-bidang tertentu, sehingga pengalihannya kepada bidang lain merupakan suatu kesulitan luar biasa; kerusakan hebat, baik material maupun mental-psikologis akibat serbuan biadab bangsa Mongol; justru kecemerlangan peradaban Islam sebagai suatu bentuk pemuncakan Abad Agraria membuat kaum Muslimin tidak pernah secara mendesak merasa perlu kepada suatu peningkatan lebih tinggi. Dengan kata lain, dunia Islam berhenti berkembang karena kejenuhan dan kemantapan pada dirinya sendiri. Ketika disadari secara amat terlambat bahwa bangsa lain yakni Eropa, benar-benar lebih unggul dari mereka, bangsa-bangsa Muslim itu terperanjat luar biasa dalam sikap tak percaya. Tidak ada gambaran yang lebih dramatis dalam psikologi umat Islam seperti keterkejutan mereka ketika Napoleon dating ke Mesir dan menaklukkan bangsa Muslim itu dengan amat mudah.[x]
Penderitaan dunia islam menghadapi Abad Modern memuncak ksecara tak terelakkan lagi, bangsa-bangsa Eropa mendapati diri mereka mampu dengan gampang sekali mengalahkan bangsa-bangsa lain, khususnya umat Islam yang selama ini dikagumi dan ditakuti namun juga dibenci. Bangsa-bangsa di Eropa Barat itu menggunakan keunggulan peradaban baru mereka untuk melancarkan politik imperialisme dan kolonialisme, dengan negeri-negeri Muslimsecara sangat wajar menjadi sasaran utamanya. Dalam keadaan terkejut dan tak berdaya, kaum Muslimin di seluruh dunia memberi reaksi yang beraneka ragam kepada gelombang serbuan kultural dari Barat itu.
Berbagai tulisan mencoba menerangkan mengapa umat Islam ‘mundur’ dan orang-orang Barat ‘maju’ ?, lengkap dengan usulan terapi untuk diterapkan guna mengobati penyakit kemunduran itu.
Gambaran yang cenderung dramatis tentang kemunduran umat, yang diberikan oleh para pemikir modernis adalah merupakan hasil langsung pembandingan keadaan dunia Islam dengan Barat. Dunia Islam memang sangat ketinggalan. Walaupun begitu marilah kita perjelas di sini bahwa apa yang terjadi itu pada hakekatnya bukanlah penghadapan antara dua tempat : Asia dan Eropa; atau antara dua orientasi cultural : Timur dan Barat, yang sesungguhnya berlangsung adalah penghadapan antara dua zaman : Abad Agraria dan Abad Teknis. Keunggulan umat Islam selama berabad abad kejayaannya adalah suatu keunggulan relative, betapapun hebatnya antara sesame masyarakat Abad Agraria. Tetapi keunggulan Eropa Barat atas dunia Islam terjadi dalam makna dan dimensi histories yang jauh lebih fundamental, yaitu keunggulan Abad Teknik atas Abad Agraria.
D. Posisi Peradaban Islam bagi Umat Islam Modern
Kaum Mslimin dijamin dalam al-Qur’an surat Ali-‘Imron ayat 110 : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq”, sebagai umat yang terbaik. Hodgson menulis tentang penjelasan ayat ini, “ Orang yang sungguh-sungguh telah mengambil ramalan (prophecy) ini dengan serius, sampai-sampai mencoba untuk membentuk sejarah seluruh dunia sesuai dengannya. Setelah setelah kepercayaan Islam dibangun, kaum Muslimin telah berhasil dalam membangun sebuat bentuk masyarakat baru, yang dengan pergeseran waktu membawa serta lembaga-lembaganya sendiri yang khas, seni dan sastranya, ilmu dan kesarjanaannya, bentuk-bentuk politik dan sosialnya, seperti juga system pemujaan dan kepercayaannya yang semuanya memberi kesan yang jelas islami. Dalam beberapa abad masyarakat yang baru ini menyebar luas ke seluruh wilayah yang sangat berlainan, di hamper seluruh Dunia Lama. Ia lebih dekat disbanding dengan masyarakat manapun yang pernah dating, pada penyatuan seluruh umat manusia di bawah cita-citanya.[xi]
Kaum Muslimin masih harus terus mengimplementasikan pernyataan – Hodgson menyebutnya ramalan- al-Qur’an tersebut secara penuh dengan segala implikasinya. Dalam setiap masa kaum Muslimin telah menegaskan kembali keyakinan mereka , menurut situasi dan kondisi baru yang telah muncul dari kegagalan maupun dari keberhasilan masa lalu. Visi tidak pernah sirna, harapa dan usaha-usaha masih sangat hidup di kalangan umat Islam modern ini.
Karenanya kaum Muslimin tidak boleh terlena dalam nostalgia kejayaan masa lalu. Kejayaan peradaban masa lalu Islam tidak begitu saja mampir di kalangan umat Islam, mereka membangunnya dengan usaha keras dari motivasi keimanan yang dijelaskan dalam Kitan Suci maupun tauladan para pendahulu mereka. Bagi Umat Islam modern kejayaan peradaban masa lalu diposisikan sebagai batu loncatan untuk menatap ke depan dan membangun umat dengan segala kemampuan yang dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Akbar S., Citra Muslim : Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, terj. Nunding Ram dan Ramli Yakub, Jakarta : Erlangga, 1992
Hodgson, Marshall G.S., The Venture of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, terj.
Mulyadi Kartanegara, Jakarta : Paramadina, 1999
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam, terj.
Ghufron A. Mas’adi, Bag. Kedua, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999
Madjid, Nurcholis (ed),
Khazanah Intelektual Islam, Cet III , Jakarta : Bulan Bintang, 1994
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta : UI Press, 1985
Watt, W. Montgomery, Islam dan Peradaban Dunia, terj.
Hendro Prasetyo, Jakarta : Gramedia, 1995)
[i] Akbar S. Ahmed, Citra Muslim : Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, terj. Nunding Ram dan Ramli Yakub (Jakarta, 1992) hal. 33
[ii] Pada tahun ini orang Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan merebut Bagdad dan mengakhiri kekhalifaan
[iii] i b i d, hal. 49
[iv] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia, terj.
Hendro Prasetyo (Jakarta : 1995) hal. 2
[v] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj.
Ghufron A. Mas’adi (Bag. Kedua ; Jakarta : 1999) hal. 581
[vi] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta : 1985) hal. 72
[vii] Akbar S. Ahmed, op. cit. hal. 50
[viii] Harun Nasution, op. cit. hal. 73
[ix] Nurcholis Madjid (ed), Khazanah Intelektual Islam (Cet III ; Jakarta : 1994) hal.50
[x] i b i d. hal. 54
[xi] Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, terj.
Mulyadi Kartanegara (Jakarta : 1999) hal. 97
Tidak ada komentar:
Posting Komentar