mau share sedikit hasil bincang-bincang semalem dengan tetangga
kontrakan orang makasar, dia yang biasa saya panggil om dia sebagai lawyer dan juga dosen disalah satu kampus swasta jakarta barat. Dia bercerita
kebudayaan bugis tentang manuskrip-manuskrip peninggalan nenek moyang
orang bugis yang sekarang manuskrip tersebut berada di museum belanda,
aneh yaa itu peningalan sejarah bangsa kita kenapa bukan kita yang
menjaganya di museum negeri kita sendiri tapi malah berada di museum
negara lain dan klo orang-orang bugis mau mempelajari manuskrip tersebut
harus datang ke negeri kincir angin tersebut...
masih menurut
penuturan si om ada juga orang amerika yang mempelajari kebudayaan
pelaut bugis bagaimana mereka menciptakan kapal laut dan orang amerika
tersebut belajar membuat miniatur kapal laut yang dulu biasa dipake
orang bugis buat melaut, dan orang amerika tersebut juga sudah
memamerkan hasil kebudayaan orang bugis yang dia pelajari di amerika si
orang amerika ini waktu memamerkan pun dia berpakaian ala orang bugis...
lalu
saya bertanya kenapa orang amerika tersebut sangat antusias untuk
mempelajari kebudayaan bangsa kita dari bugis bahkan dia sampe
memamerkan di amerika, si om menjawab orang amerika mempunyai maksud
bahwa kelak ketika orang-orang bugis ingin mempelajari sejarah nenek
moyangnya mereka harus pergi ke amerika sama seperti halnya manuskrip
yang tersimpan di belanda karena orang amerika tahu bahwa kita acuh sama
kebudayaan kita sendiri...
si om lalu melanjutkan malaysia pun
sekarang sudah mulai mempelajari kebudayaan nenek moyang kita dan
sebagian sudah disimpan di museum mereka, seperti inilah orang
indonesia, kita yang mempunyai kebudayaan acuh tapi ketika kebudayaan
tersebut kia marah-marah...
dalam hati saya berkata itu hanya sebagian kecil kebudayaan kita, kebudayaan kita itu beragam dari sabang sampai merauke, betapa meruginya saya yang tak menjaga kebudayaan saya.
Jumat, 26 April 2013
Senin, 22 April 2013
Ibu
Ibu - Iwan Fals
Ribuan kilo jalan yang kau tempuhLewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
Ibu
Ibu
Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
Ibu
Ibu
Ibu wanita pilihan yang diciptakan oleh Allah untuk mengurus rumah tangga yang isinya Ayah serta aku dan kakak adiku :D
Ibu wanita yang tegar dalam menghadapi hidup, pujian dan cacian sanggup ia lewati demi menghidupi keluargaku
Ibu dari dulu hingga sekarang kau masih saja mengurusi anakmu meskipun sebagian sudah berkeluarga, kau yang selalu khawatir terhadapku seperti aku masih anak kecil saja tapi itulah dirimu Ibu...
memang benar kasihmu seperti udara, lalu dengan apa aku membalas??
semoga kelak istriku mempunyai jiwa yang sepertimu Ibu, amiinn :D
Ujian Nasional?? Siapa Takut!!!
Pagiiiiii.....
Jam menunjukan pukul 1 .20 wib mata belum juga terkantuk, bingung sih mau nulis apa banyak banget yang ada dipikiran, Ujian Nasioal, Bomb Boston, Eyang Subur dll...
coba yang ringan aja yaaa cerita mengenang masa lalu tepatnya Ujian Nasional hehehe
saya tidak tahu bedanya Ujian Nasional pada jaman sekolan kemaren2 dengan yang sekarang, seingat saya sih pada masa kelulusan SMU kemaren lulusan saya yang pertama menerapkan sistem seperti sekarang yaitu lulus dengan nilai Ujian Nasional Bukan lulus berdasarkan nilai sekolah...
Lalu apa yang ditakutkan dalam menghadapi Ujian Nasional sampe2 ada yang ngadain acara pengajian2 minta ampunan dosa (kalo engga salah), dalam hati saya bertanya mau pada Ujian Nasional apa pada meninggal sih?hehehe
Menghadapi Ujian Nasional itu yang terpenting jangan gugup, untuk supaya tidak gugup bagaimana?ya dengan belajar, klo sudah belajar kan pasti udah siap dan jangan lupa juga berdoa kepada Tuhan semoga diberi kelancaran dalam usaha mengerjakan soal Ujian Nasional...
Saya mau share sedikit nih, sebenernya saya menyukai penilaian Ujian Nasional seperti jaman saya Lulus SMU kemaren, kenapa?karena itu atas hasil usaha sendiri tanpa ada campur tangan guru sekolah, kebanggaanya melebihi atas nilai sekolah yang sudah didapat selama tiga tahun...
Waktu jaman SMP dulu saya lulus msh ada campur tangan guru sekolah, lagian tidak ada target batasan nilai kelulusan klo pas jaman SMU ada target jadi klo bs melebihi target nilai tersebut kita dpede setidaknya kita bisa melampaui apa yang sudah ditetapkan...
Dan waktu jaman SMP dulu saya sempet frustasi sek olah bukan apa-apa, karena saya merasa saya masuk sekolah favorit di kampung saya, saya fikir bisa berkompetisi secara fair untuk mendapatkan nilai guna kenaikan kelas tapi nyatanya banyak yang cuma modal rajin dan pendiam mereka naik kelas dan lulus pula
Jaman SMU berbeda dengan jaman SMP karena saya lebih memilih swasta daripada sekolah favorit sperti pada waktu SMP, saya ingat waktu pertama kali kepala sekolah memberikan pidato sambutan kepada anak didik barunya, kata-katanya saya masih inget "saya tidak butuh murid pendiam tapi bodoh, yang saya butuhkan adalah murid terpelajar bandel tidak masalah, sekolah disini tidak masalah kalian mau rambut gondrong tempat merokok juga ada di kantin jadi kalian tidak usah membolos hanya karena ingin merokok" semua siswa baru tertawa hahahaha dalam hati saya cuma bisa bilang kayaknya saya tidak salah pilih sekolah, disinilah sekolah yang saya idam-idamkan hehehe...dan memang kompetisi secara fair benar adanya yang pinter masuk kelas unggulan dan yang biasa masuk kelas non unggulan untuk bisa masuk kelas unggulan syaratnya harus peringkat 5 besar dikelas msing-masing, saya sendiri tidaklah pintar tapi alhamdulillah bisa masuk kelas unggulan :D
Untuk adik-adikku Ujian bukanlah untuk ditakuti tapi dihadapi, seseorang itu perlu diuji untuk mengetahui tingkat kematangan dalam berpikir dan ingatlah semakin tinggi kita Ujian semakin berat pula...
Jam menunjukan pukul 1 .20 wib mata belum juga terkantuk, bingung sih mau nulis apa banyak banget yang ada dipikiran, Ujian Nasioal, Bomb Boston, Eyang Subur dll...
coba yang ringan aja yaaa cerita mengenang masa lalu tepatnya Ujian Nasional hehehe
saya tidak tahu bedanya Ujian Nasional pada jaman sekolan kemaren2 dengan yang sekarang, seingat saya sih pada masa kelulusan SMU kemaren lulusan saya yang pertama menerapkan sistem seperti sekarang yaitu lulus dengan nilai Ujian Nasional Bukan lulus berdasarkan nilai sekolah...
Lalu apa yang ditakutkan dalam menghadapi Ujian Nasional sampe2 ada yang ngadain acara pengajian2 minta ampunan dosa (kalo engga salah), dalam hati saya bertanya mau pada Ujian Nasional apa pada meninggal sih?hehehe
Menghadapi Ujian Nasional itu yang terpenting jangan gugup, untuk supaya tidak gugup bagaimana?ya dengan belajar, klo sudah belajar kan pasti udah siap dan jangan lupa juga berdoa kepada Tuhan semoga diberi kelancaran dalam usaha mengerjakan soal Ujian Nasional...
Saya mau share sedikit nih, sebenernya saya menyukai penilaian Ujian Nasional seperti jaman saya Lulus SMU kemaren, kenapa?karena itu atas hasil usaha sendiri tanpa ada campur tangan guru sekolah, kebanggaanya melebihi atas nilai sekolah yang sudah didapat selama tiga tahun...
Waktu jaman SMP dulu saya lulus msh ada campur tangan guru sekolah, lagian tidak ada target batasan nilai kelulusan klo pas jaman SMU ada target jadi klo bs melebihi target nilai tersebut kita dpede setidaknya kita bisa melampaui apa yang sudah ditetapkan...
Dan waktu jaman SMP dulu saya sempet frustasi sek olah bukan apa-apa, karena saya merasa saya masuk sekolah favorit di kampung saya, saya fikir bisa berkompetisi secara fair untuk mendapatkan nilai guna kenaikan kelas tapi nyatanya banyak yang cuma modal rajin dan pendiam mereka naik kelas dan lulus pula
Jaman SMU berbeda dengan jaman SMP karena saya lebih memilih swasta daripada sekolah favorit sperti pada waktu SMP, saya ingat waktu pertama kali kepala sekolah memberikan pidato sambutan kepada anak didik barunya, kata-katanya saya masih inget "saya tidak butuh murid pendiam tapi bodoh, yang saya butuhkan adalah murid terpelajar bandel tidak masalah, sekolah disini tidak masalah kalian mau rambut gondrong tempat merokok juga ada di kantin jadi kalian tidak usah membolos hanya karena ingin merokok" semua siswa baru tertawa hahahaha dalam hati saya cuma bisa bilang kayaknya saya tidak salah pilih sekolah, disinilah sekolah yang saya idam-idamkan hehehe...dan memang kompetisi secara fair benar adanya yang pinter masuk kelas unggulan dan yang biasa masuk kelas non unggulan untuk bisa masuk kelas unggulan syaratnya harus peringkat 5 besar dikelas msing-masing, saya sendiri tidaklah pintar tapi alhamdulillah bisa masuk kelas unggulan :D
Untuk adik-adikku Ujian bukanlah untuk ditakuti tapi dihadapi, seseorang itu perlu diuji untuk mengetahui tingkat kematangan dalam berpikir dan ingatlah semakin tinggi kita Ujian semakin berat pula...
Senin, 08 April 2013
SHE WALKS IN BEAUTY by: George Gordon (Lord) Byron (1788-1824)
berbagi sajak dari lord byron, orangnya boleh mati meninggalkan kita namun sajak-sajaknya tetap hidup sampai sekarang :)
SHE WALKS IN BEAUTY
by: George Gordon (Lord) Byron (1788-1824)
She walks in beauty, like the night
Of cloudless climes and starry skies;
And all that's best of dark and bright
Meet in her aspect and her eyes:
Thus mellow'd to that tender light
Which heaven to gaudy day denies.
One shade the more, one ray the less,
Had half impair'd the nameless grace
Which waves in every raven tress,
Or softly lightens o'er her face;
Where thoughts serenely sweet express
How pure, how dear their dwelling-place.
And on that cheek, and o'er that brow,
So soft, so calm, yet eloquent,
The smiles that win, the tints that glow,
But tell of days in goodness spent,
A mind at peace with all below,
A heart whose love is innocent!
SHE WALKS IN BEAUTY
by: George Gordon (Lord) Byron (1788-1824)
She walks in beauty, like the night
Of cloudless climes and starry skies;
And all that's best of dark and bright
Meet in her aspect and her eyes:
Thus mellow'd to that tender light
Which heaven to gaudy day denies.
One shade the more, one ray the less,
Had half impair'd the nameless grace
Which waves in every raven tress,
Or softly lightens o'er her face;
Where thoughts serenely sweet express
How pure, how dear their dwelling-place.
And on that cheek, and o'er that brow,
So soft, so calm, yet eloquent,
The smiles that win, the tints that glow,
But tell of days in goodness spent,
A mind at peace with all below,
A heart whose love is innocent!
WOMEN by: Cristóbal de Castillejo (1491-1556)
Wanita, Dialah yang melahirkan kita dengan nama ibu, Dialah yang menjadi
belahan jiwa kita dengan nama istri...apapun namanya sulit membayangkan
hidup ini tanpa kehadiran mereka, sajak berikut ini hanya secuil rasa
kekaguman terhadap manusia yang dinamakan wanita :)
WOMEN
by: Cristóbal de Castillejo (1491-1556)
HOW dreary and how lone
The world would appear
If women were none! '
Twould be like a fair,
With neither fun nor business there.
Without their smile
Life would be tasteless, vain, and vile;
A chaos of perplexity,
A body without soul 'twould be;
A roving spirit borne Upon the winds forlorn;
A tree without or flowers or fruit,
A reason with no resting place,
A castle with no governor to it,
A house without a base.
What are we? What our race?
How good for nothing and base
Without fair woman to aid us
What could we do? Where should we go?
How should we wander in night and woe,
But for woman to lead us?
How could we love if woman were not?
Love--the brightest part of our lot;
Love--the only charm of living;
Love--the only gift worth giving?
Who would take charge of your house, say who?
Kitchen, and dairy, and money-chest?
Who but the women, who guard them best;
Guard and adorn them too?
Who like them has a constant smile,
Full of peace, as meekness full,
When life's edge is blunt and dull,
And sorrow, and sin, in frowning file,
Stand by the path in which we go
Down to the grave through wasting woe?
All that is good is theirs, is theirs
All we give and all we get;
And if a beam of glory yet
Over the gloomy earth appears,
O, 'tis theirs! O, 'tis theirs,--
They are the guard, -- the soul, -- the seal
Of human hope and human weal;
They, -- they, -- none but they!
Woman, -- sweet woman, -- let none say nay!
WOMEN
by: Cristóbal de Castillejo (1491-1556)
HOW dreary and how lone
The world would appear
If women were none! '
Twould be like a fair,
With neither fun nor business there.
Without their smile
Life would be tasteless, vain, and vile;
A chaos of perplexity,
A body without soul 'twould be;
A roving spirit borne Upon the winds forlorn;
A tree without or flowers or fruit,
A reason with no resting place,
A castle with no governor to it,
A house without a base.
What are we? What our race?
How good for nothing and base
Without fair woman to aid us
What could we do? Where should we go?
How should we wander in night and woe,
But for woman to lead us?
How could we love if woman were not?
Love--the brightest part of our lot;
Love--the only charm of living;
Love--the only gift worth giving?
Who would take charge of your house, say who?
Kitchen, and dairy, and money-chest?
Who but the women, who guard them best;
Guard and adorn them too?
Who like them has a constant smile,
Full of peace, as meekness full,
When life's edge is blunt and dull,
And sorrow, and sin, in frowning file,
Stand by the path in which we go
Down to the grave through wasting woe?
All that is good is theirs, is theirs
All we give and all we get;
And if a beam of glory yet
Over the gloomy earth appears,
O, 'tis theirs! O, 'tis theirs,--
They are the guard, -- the soul, -- the seal
Of human hope and human weal;
They, -- they, -- none but they!
Woman, -- sweet woman, -- let none say nay!
Langganan:
Postingan (Atom)