Rabu, 14 Februari 2018

Perhitungan PPH 21 OP (Orang Pribadi) Terbaru

Berikut adalah cara perhitungan PPh 21 OP terbaru :

Untuk suami dan istri yang NPWP nya digabung artinya menggunakan 1 NPWP

Contohnya :
Yudi seorang suami mempunyai istri dan seorang anak bekerja pada PT. ABC selama tahun 2017 dengan penghasilan netto setahun Rp. 85.000.000 sedangkan istrinya bekerja pada PT. DEF selama tahun 2017 dengan penghasilan netto setahun Rp. 65.000.000 maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Bukti Potong 1721-A1 untuk Yudi
penghasilan netto setahun                                   = Rp. 85.000.000
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) K/1       = RP 63.000.000  ---> 54.000.000+4.500.000+4.500.000
Penghasilan Kena Pajak                                      =  Rp. 85.000.000 - Rp. 63.000.000 = Rp. 22.000.000
Pajak Terutang Setahun (5% x Rp. 22.000.000) = Rp. 1.100.000

Bukti Potong 1721-A1 untuk istri Yudi
Penghasilan netto setahun                                   = Rp. 65.000.000
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) TK/0     = Rp. 54.000.000
Penghasilan Kena Pajak                                      = Rp. 65.000.000 - Rp. 54.000.000 = Rp. 9000.000
Pajak Terutang Setahun (5% x Rp. 9.000.000)   = Rp. 450.000  

Dari perhitungan di atas tidak ada kekurangan pajak dikarenakan telah dipotong oleh perusahaan pemberi kerja masing-masing. Pencatatan dalam SPT suami, penghasilan istri sebagai karyawan yang telah dipotong oleh pemberi kerja dianggap final.

Cara Pengisian dalam SPT

Saat pengisian SPT yang dimasukan dalam Formulir induk cukup perhitungan dari bukti potong suami, dan bukti potong punya istri tidak diperhitungkan lagi karena sifatnya final, dimasukan dalam formulir 1770-II Bag A no 13.

Untuk perlakuan terhadap harta dan utang, akan dihitung secara gabungan dan wajib dicantumkan ke dalam SPT. Untuk harta seperti rumah, tanah, kendaraan dan lain-lain boleh digabungkan jadi satu. Namun apabila terpisah, maka harta akan ikut pemilik yang atas namanya ditentukan.


Untuk suami dan istri yang NPWP terpisah artinya menggunakan beda NPWP

Contohnya :
Yudi seorang suami mempunyai istri dan seorang anak bekerja pada PT. ABC selama tahun 2017 dengan penghasilan netto setahun Rp. 85.000.000 sedangkan istrinya bekerja pada PT. DEF selama tahun 2017 dengan penghasilan netto setahun Rp. 65.000.000 maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Bukti Potong 1721-A1 untuk Yudi
penghasilan netto setahun                                   = Rp. 85.000.000
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) K/1       = RP 63.000.000  ---> 54.000.000+4.500.000+4.500.000
Penghasilan Kena Pajak                                      = Rp. 85.000.000 - Rp. 63.000.000 = Rp. 22.000.000
Pajak Terutang Setahun (5% x Rp. 22.000.000) = Rp. 1.100.000

Bukti Potong 1721-A1 untuk istri Yudi
Penghasilan netto setahun                                   = Rp. 65.000.000
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) TK/0     = Rp. 54.000.000
Penghasilan Kena Pajak                                      = Rp. 65.000.000 - Rp. 54.000.000 = Rp. 9000.000
Pajak Terutang Setahun (5% x Rp. 9.000.000)   = Rp. 450.000  

Cara Pengisian dalam SPT 

Karena NPWPnya Berbeda maka perhitungannya menjadi

Penghasilan Netto Suami             = Rp. 85.000.000
Penghasilan Netto Istri                  = Rp. 65.000.000
Penghasilan Tidak Kena Pajak     = Rp. 63.000.000 + Rp. 54.000.000 = RP 117.000.000 
Penghasilan Kena Pajak               = (Rp.85.000.000 + Rp. 65.000.000) - Rp. 117.000.000
                                                      = Rp. 33.000.000
Jumlah PPh Terutang (gabungan) = RP. 33.000.000 x 5% = Rp. 1.650.000
Pajak terutang Ditanggung suami = Rp. 85.000.000 / Rp. 150.000.000 x Rp. 1.650.000
                                                      = Rp. 935.000
Pajak Terutang Ditanggung istri    = Rp. 65.000.000 / Rp. 150.000.000 x Rp. 1.650.000
                                                      = Rp. 715.000

Masukan perhitungan diatas pada Lembar Perhitungan Penghasilan Terutang Bagi Wajib Pajak PH/MT, terlebih dahulu baru setelahnya mengisi di formulir Induk.
Untuk Status Kewajiban Perpajakan di bagian Identitas, apabila suami dan istri memiliki surat perjanjian tertulis untuk pisah harta, maka kotak yang disilang (x) adalah PH. Sementara bagi suami istri yang tidak mempunyai surat perjanjian tertulis pisah harta namun memilih untuk memenuhi kewajiban perpajakan secara terpisah, maka kotak yang disilang (x) adalah MT.

Di formulir induk 1770-S bagian A nomor 1-6 diisi sesuai dengan bukti potong 1721-A1 yang diterima oleh masing-masing. Khusus untuk Bagian B nomor 7-8 dikosongkan karena perhitungan Penghasilan Kena Pajak telah dilakukan di formulir lampiran PH/MT. Kemudian di Bagian C nomor 9 diisi dengan angka yang terdapat pada formulir lampiran PH/MT.

Pada pengisian formulir induk suami makan akan terjadi lebih bayar karena pada bukti potong yang diterima dari tempat bekerja adalah Rp.1.100.000 setelah dihitung ulang menggunakan PH/MT menjadi Rp. 935.000 bisa dikompensasikan pada tahun pajak berikutnya.
Pada pengisian formulir induk istri maka akan terjadi kurang bayar karena pada bukti potong yang diterima dari tempat bekerja adalah Rp 450.000 setelah dihitung ulang menggunakan PH/MT menjadi Rp. 715.000 selisihnya disetor ke kas Negara. dan ditiap bulan harus membayar cicilan PPh 25 dari perhitungan Rp.715.000 - Rp.450.000 = Rp.265.000/12 = Rp.22.083 dibulatkan menjadi Rp.22.100.

Demikian lah ilustrasi perhitungan PPh 21 OP, silakan memilih untuk beda NPWP atau menjadi satu NPWP dengan suami.